Bismillah...
Dikisahkan dalam perjalanannya, si Fulan sedang melakukan safar atau perjalanan jauh dengan mengedarai seekor kuda, panas terik membuat dia memutuskan berhenti sejenak untuk sekadar melepas dahaga di Kedai terdekat.
Tak lama jarak perjalanan berselang sampailah si Fulan di sebuah Kedai, diikatkanlah kudanya di tempat yang sudah disediakan di halaman kedai kemudian si Fulan memilih meja dimana ia bisa melihat sekaligus mengawasi kuda miliknya dari dalam. Tak lama setelah si Fulan memesan hidangan, dilihatnya sesosok pemuda dengan penampilan dekil dan sedikit compang-camping menghampiri kuda-nya. Si Fulan memperhatikan dengan seksama, bukan curiga hanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan si pemuda ini yang terlihat perlahan-lahan mulai mengelus-elus kuda-nya.
Hidangan pun datang. Sembari menyantap, si Fulan sesekali melihat pemuda tadi, kali ini ia terlihat menggosok-gosok badan kuda dengan air seperti dia sedang merawatnya (biasanya pada jaman itu di tempat-tempat seperti ini memang disediakan air didekat tempat 'parkir' kuda untuk minum kuda-kuda yang diikat), si Fulan kemudian faham akan maksud si pemuda tadi, ia mungkin melakukan itu demi mendapatkan imbalan alakadarnya ataupun sekadar makanan dari si pemilik kuda, melihat penampilan dan tingkah laku si pemuda yang terlihat baik si Fulan pun berkata dalam hati, "Aku akan memberinya 15 Dinar, tapi nanti selepas aku menghabiskan hidangan ini".
Menit berlalu, hidangan si Fulan habis dan ia pun telah membayarnya, tinggal ia tunaikan hajatnya untuk memberi 15 Dinar pada si pemuda tadi, namun sesampainya di pintu keluar dia melihat si pemuda sudah tidak berada disana dan "Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun..." ucap si Fulan sembari terperana, ia juga mendapati pelana kudanya hilang. Kini penilaian si Fulan terhadap si pemuda tadi bercampur aduk antara marah dan kecewa, namun dia-pun tidak cukup bukti apakah benar si pemuda ini yang mencuri pelana kuda-nya.

Tanpa terlalu banyak memikirkan kejadian tadi, si Fulan bergegas menuntun kudanya untuk mencari pasar terdekat guna membeli pelana pengganti agar ia dapat melanjutkan perjalanannya. Alhamdulillah, tak jauh dari Kedai ditemukannya sebuah pasar, dia berharap ada kios yang menjual pelana kuda.
"Masya Allah..." ucap si Fulan saat ia masuk ke sebuah kios, ia bingung harus gembira atau sedih karena melihat pelana kuda-nya yang hilang telah terpajang di sana, dan ya... dijual tentunya.
***
"Afwan, saya bingung harus bercerita seperti apa..." spontan si Fulan berbicara pada si penjual, "Seorang pemuda berbaju compang-camping,dan bla..bla.. (si Fulan menjelaskan detil ciri-ciri si pemuda), ia mendekati kuda-ku saat aku rehat di sebuah Kedai, saat aku keluar aku mendapati pelana kuda-ku raib bersamanya..." lanjutnya, "Dan demi Allah, ini pelana kuda-ku yang hilang itu..." seraya memegang pelana kuda-nya yang terpajang.
"Subhanallah..." si Penjual menanggapi, "Benar apa yang engkau katakan wahai Tuanku, seorang pemuda persis dengan ciri-ciri yang engkau sebutkan datang beberapa waktu yang lalu menjual pelana ini dengan harga 15 Dinar, aku tak sadar betapa murahnya ia menjualnya sehingga ak tak berfikir panjang untuk membelinya..." lanjut si Penjual, "Dan demi Allah aku tak akan sudi membelinya jika aku tahu bahwa itu adalah pelana curian... Subhanallah..." seraya mengeleng-gelengkan kepala si Penjual melanjutkan ucapannya.
Ingin menebus kesalahan, si Penjual kemudian menawarkan pelana itu untuk si Fulan, "Ambil-lah pelana ini wahai Tuan-ku..." ucapnya, "Namun semoga engkau berkenan menukarku 15 Dinar, seharga dengan jumlah yang aku keluarkan untuk membelinya dari si pemuda tadi..." lanjutnya kemudian.
Tanpa berfikir panjang si Fulan segera mengeluarkan uang sejumlah yang diminta untuk menukar pelana kuda-nya, dan ia pun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanannya si Fulan berfikir apa hikmah yang dia dapat dari kejadian tadi. Semua hikmah akan diawali dengan "jika saja", "Jika saja si pemuda tadi bersabar lagi sedikit untuk menungguku selesai makan, maka dia akan mendapatkan 15 Dinar yang halal dariku, namun karena dia tidak bersabar, dia tetap mendapatkan 15 Dinar tapi dari cara yang salah, sehingga haram-lah 15 Dinar yang didapatnya" gumamnya.
"Sebenarnya rejekinya sudah ditetapkan oleh Allah sebesar 15 Dinar hari ini, hanya tinggal bagaimana dia menjemputnya...".
Si Fulan tiba-tiba tersenyum kecil seperti sadar akan sesuatu, ia kembali bergumam "Begitu juga dengan aku, Allah telah menetapkan bahwa aku akan mengeluarkan 15 Dinar hari ini, Jika saja saat aku berniat untuk memberi 15 Dinar kepada pemuda itu dan aku bersegera memberikannya, insha Allah aku akan mendapatkan pahala bersedekah, namun karena aku memilih untuk menundanya, maka akhirnya aku tetap mengeluarkan 15 Dinar hanya untuk membeli barangku sendiri, yang akhirnya tidak bernilai sedekah untukku... Subhanallah..."
Hikmah yang bisa diambil dari kisah diatas ialah menyegerakan bersedekah setelah berniat, dan juga terus bersabar dan tawakal dalam menjemput rizki dari Allah S.W.T. Wallahu a'lam
***
sumber kisah : Saya pernah mendengarkan cerita ini dikisahkan oleh seorang ustadz tapi saya lupa oleh siapa dan dimana :), seingat saya dulu dikisahkan dari sebuah riwayat dan si Fulan adalah seorang Sahabat Rasulullah yang sedang bersyafar. Namun karena saya benar-benar lupa sumber riwayatnya maka saya tulis saja dengan versi saya, mohon maaf jika ada kesalahan, semoga dapat bermanfaat. Aamiin. (j.a.p)
***